Back to All articles

Lapangan Banteng Ikon Kebanggaan Kota Jakarta

Lapangan Banteng bertransformasi dari sebuah taman menjadi pusat interaksi warga untuk berbagai kegiatan. Kawasan ini kini hadir dengan wajah baru nan cantik.

Siapa sih warga Jakarta yang tidak mengenal Lapangan Banteng? Letaknya yang strategis di pusat kota dan kisah-kisah menarik didalamnya.

Artikel ini meliput sejarah sampai transformasi yang terjadi setelah kawasan ini direvitalisasi. Mungkin kini saatnya Anda berekreasi bersama keluarga berkunjung ke kawasan yang instagramable ini.

BACA JUGA :

Mengenal Mortar Instan 

Mengenal Bata Ringan

Jangan Salah Pilih Produk Waterproofing

Keunggulan AAC Panel

Harapan Gubernur DKI Jakarta terhadap Lapangan Banteng sebagai Ikon Jakarta

Direncanakan di era kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta sebelumnya, Basuki Tjahaja Purnama, peletakan batu pertama oleh Plt Gubernur Sumarsono dan prasasti ditandatangani oleh Gubernur Anies.

Dalam sambutannya, Gubernur Anies meminta lapangan ini tidak hanya dijadikan taman melainkan juga pusat interaksi warga untuk berkegiatan.

“Harapannya, tempat ini bukan sekadar tempat yang memesona karena rancangannya baik, yaitu rancangan yang memungkinkan warga berinteraksi bersama. Di arena ini, tempat ini, menjadi tempat di mana warga bisa berinteraksi serta bisa melakukan kegiatan bersama,” ujar Anies seperti dikutip dari Liputan6.com, Jumat (27/7/2018).

“Saya harap ini jadi ikon Jakarta dan Indonesia.”

Adapun renovasi lapangan Banteng ini menggunakan dana swasta yakni dana dari koefisien lantai bangunan PT Sinarmas dan CSR PT Rekso.

Sejarah Lapangan Banteng

Lapangan Banteng, dulu bernama Waterlooplein (bahasa Belanda: plein = lapangan) yaitu suatu lapangan yang terletak di Weltevreden, Batavia; tidak jauh dari Gereja Katedral Jakarta.

Pada masa itu, Lapangan Banteng dikenal dengan sebutan Lapangan Singa karena di tengahnya terpancang tugu peringatan kemenangan pertempuran di Waterloo, dengan patung singa di atasnya.

Lapangan Banteng, tugu singa

Tugu Singa tersebut didirikan pada zaman pemerintahan pendudukan tentara Jepang (1942-1945).

Pada era Presiden Soekarno, lahan yang disebut Lapangan Singa itu dinamakan dengan Lapangan Banteng.

Alasannya, Lapangan Singa mengingatkan pada era penjajahan Belanda.

Sementara nama Banteng sendiri dianggap dapat mewakili semangat perjuangan rakyat Indonesia.

Terdapat kemungkinan pada zaman dahulu tempat yang kini menjadi lapangan itu dihuni berbagai macam satwa liar seperti macan, kijang, dan banteng.

Pada waktu J.P. Coen membangun kota Batavia di dekat muara Ciliwung, lapangan tersebut dan sekelilingnya masih berupa hutan belantara yang sebagian berpaya–paya.

Pada era 1970-an, Lapangan Banteng mulanya adalah sebuah terminal tempat bus kota saat pemerintahan Gubernur Ali Sadikin.

Lapangan Banteng, terminal bus

Tahun 1981, Pemda DKI mengosongkannya dan menjadikannya sebagai taman umum.

Sebuah keputusan yang tepat. Terminal bus yang hiruk pikuk dan asap knalpot yang membumbung kurang serasi berada di tengah perkantoran pemerintahan, hotel, dan tempat ibadah di sekitarnya.

Lapangan Banteng, tugu

Tak berhenti di situ, Presiden Soekarno turut membangun tugu peringatan pembebasan Irian Barat dari tangan Belanda.

Patung yang berbentuk orang mengangkat tangan dan terbebas tersebut dianggap memiliki nilai sejarah perjuangan tersendiri.

Fitur Baru Daya Tarik Lapangan Banteng

Lapangan historis dengan monumen pembebasan Irian Barat ini dilengkapi tempat duduk berupa tangga, air mancur yang dilengkapi lampu warna-warni serta pada saat-saat tertentu diputarkan lagu-lagu tradisional Indonesia.

Tak hanya itu, di sepanjang dinding yang berada di samping kiri monumen, terdapat kutipan kata-kata pembebasan Irian Barat dari para pahlawan Indonesia seperti kutipan dari Presiden Soekarno, Muhammad Yamin, Gubernur Irian Barat Zainal Abidin.

Lapangan Banteng kini

Taman yang berbatasan langsung Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal itu, juga dilengkapi dengan lapangan sepak bola, trek atletik, lapangan basket, dan arena bermain anak.

Berikut adalah tiga fitur utama yang menjadi daya tarik baru Taman Lapangan Banteng:

1. Air Mancur Menari

Pertunjukan air mancur menari tampaknya menjadi fitur yang paling dinanti-nanti setelah wajah baru Lapangan Banteng diresmikan.

Pertunjukan serupa terbilang jarang ditemui di Jakarta.

Desainer air mancur menari Lapangan Banteng Robby Krisna mengatakan, pertunjukan tersebut tak ubahnya pertunjukan seni tari yang memadukan gerakan, musik, dan tata cahaya yang memukau.

“Sebenarnya air mancur menari ini menggantikan posisi koreo orang. Biasanya kan musik dengan orang yang menari, tapi ini lebih ke air yang menari,” kata Robby di Lapangan Banteng, Selasa kemarin.

Ada lima lagu yang akan mendampingi pertunjukan air mancur menari yaitu :

  • Indonesia Pusaka,
  • Bagimu Negeri,
  • Satu Nusa Satu Bangsa,
  • Yamko Rambe Yamko, dan
  • medley tiga lagu Betawi (Surilang, Ondel-ondel, dan Jali-jali).

2. Amfiteater

Bangunan amfiteater telah ditempatkan di tengah Lapangan Banteng tepat menghadap area pertunjukan air mancur menari.

Amfiteater berbentuk setengah lingkaran tersebut memiliki sebelas undakan dan ditaksir dapat menampung ribuan orang. Beberapa pohon ditanam di celah-celah bangunan.

Satu lagi lokasi instagramable

Tak sekadar jadi tempat duduk, Amfiteatre itu juga menjadi salah satu lokasi favorit anak muda yang ingin berburu foto-foto bagus atau untuk kebutuhan feeds Instagram.

3. Kutipan Bersejarah

Keberadaan Taman Lapangan Banteng tentu tak bisa dilepaskan dari sejarah bangsa Indonesia.

Selain Monumen Pembebasan Irian Barat yang sudah ada sejak dulu, TLapangan Banteng kini mempunyai sepuluh panel berisi kutipan-kutipan bersejarah.

Sepuluh panel tersebut isinya terkait peristiwa :

  • Indonesia jadi merdeka,
  • KMB (Konferensi Meja Bundar),
  • Pidato Bung Karno tentang Irian Barat.

Panel-panel itu diharapkan menjadi medium untuk mempelajari sejarah bagi anak-anak yang tengah mengunjungi Taman Lapangan Banteng.

Selain tiga fitur baru tersebut, ada sejumlah hal lain yang masih dipertahankan dan dipercantik seperti lapangangan olahraga serta Monumen Pembebasan Irian Barat yang menjadi ikon Lapangan Banteng.

Sumber :Kumpulan artikel